Paper Bisnis Kehutanan Medan,
Maret 2021
BISNIS
SABUT KELAPA (Cocos nucifera)
Dosen Penanggungjawab
:
Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Sabylita Amanda
181201095
MNH 6
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan paper yang berjudul “Bisnis Sabut Kelapa (Cocos nucifera)” ini dengan baik. Paper Bisnis Kehutanan ini
disusun untuk memenuhi tugas kuliah Bisnis Kehutanan, Program Studi Kehutanan,
Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam
penyelesaian paper ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak.
Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku
dosen pembimbing mata kuliah Bisnis Kehutanan, yang telah mengajarkan materi dengan
baik.
Penulis sadar bahwa
penulisan paper ini masih memiliki kesalahan- kesalahan, baik itu dalam segi
teknik maupun dalam bahasa. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran dari para pembaca demi menyempurnakan paper ini. Akhir kata, penulis
berharap semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih.
Medan, Maret 2021
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemiskinan
dan ketidakmerataan pendapatan adalah dua hal yang sedang gencar-gencarnya
ditekan pertumbuhannya oleh pemerintah.Ketidakmerataan terkait erat dengan
kemiskinan karena secara mendasar adalah indikator kemiskinan relatif, yaitu
kesenjangan antara golongan kaya dan miskin. Jika
melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, pada 3 tahun terakhir terus mengalami
peningkatan yang cukup baik.Hal ini dapat dilihat dari PDB Indonesia dalam
Laporan Perekeonomian Indonesia 2011 yang dipublikasikan oleh BI melalui situs
resminya.Dalam tiga tahun terakhir terus mengalami suatu
peningkatan (Arifianto, 2017).
Indonesia
memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk pengembangan berbagai
komoditas pertanian. Beberapa tanaman yang potensial sebagai penghasil bioenergi
adalah kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kapas, kanola, dan rapeseed untuk
biodiesel, serta ubi kayu, ubi jalar, tebu, sorgum, sagu, aren, nipah, dan
lontar untuk bioethanol. Selain potensial sebagai penghasil bioenergi, beberapa
komoditas tersebut, seperti kelapa sawit, kelapa, kapas, ubi kayu, tebu, dan
sagu, juga merupakan komoditas sumber bahan pangan dan pakan. Oleh karena itu,
suatu pengembangan komoditas penghasil bioenergi tersebut akan apat bersaing
dengan kebutuhan untuk pangan maupun
pakan (Mulyani dan Irsal, 2011).
HHBK
merupakan sumberdaya yang paling bernilai bagi masyarakat sekitar hutan, lebih
bernilai daripada kayu. Sebagai negara kepulauan serta kondisi argoklimat yang
mendukung Indonesia merupakan penghasil kelapa utama di dunia. Kelapa merupakan
tanaman perkebunan dengan areal terluas, lebih luas dibandingkan dengan tanaman
karet dan kelapa sawit dan menempati urutan teratas untuk tanaman budidaya
setelah padi. Selain daging buahnya, bagian lain dari kelapa juga memiliki
nilai ekonomis seperti tempurung, batang pohon dan daun kelapa, tetapi sabut
kelapa (Coco fiber) kurang mendapat
perhatian (Astika et al., 2013).
Tanaman
kelapa merupakan tanaman yang banyak dijumpai di seluruh pelosok Nusantara,
sehingga hasil alam berupa kelapa di Indonesia sangat melimpah. Sampai saat ini
pemanfaatan limbah berupa sabut kelapa masih terbatas pada industri-industri
mebel dan kerajinan rumah tangga dan belum diolah menjadi produk teknologi.
Limbah serat buah kelapa sangat potensial digunakan sebagai penguat bahan baru pada
komposit. Beberapa keistimewaan pemanfaatan serat sabut kelapa sebagai bahan
baru rekayasa antara lain menghasilkan bahan baru komposit alam yang ramah
lingkungan dan mendukung gagasan pemanfaatan serat sabut kelapa menjadi produk
yang memiliki nilai ekonomi dan teknologi tinggi (Amin dan Samsudi, 2011).
1.2
Rumusan Masalah
1.
Klasifikasi kelapa
2.
Apa itu sabut kelapa dan manfaat sabut
kelapa?
3.
Bagaimana pengembagan limbah kelapa di
Indonesia?
4.
Apa-apa saja usaha yang dapat dibangun
dengan bahan baku sabut kelapa?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui klasifikasi kelapa
2.
Untuk mengetahui pengertian sabut kelapa
dan manfaat sabut kelapa
3.
Untuk mengetahui pengembangan limbah
kelapa di Indonesia
4.
Untuk mengetahui usaha apa saja yang
dapat dibangun dengan menggunakan bahan baku sabut kelapa
BAB
II
ISI
2.1
Klasifikasi Kelapa
Kelapa adalah suatu jenis tumbuha dari suku
aren-arenan atau Arecaceace. Tumbuhan ini memiliki manfaat yang banyak, hampir
semua bagiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia sehingga dan dianggap sebagai
tumbuhan serba guna. Kelapa secara alami tumbuh di daerah pantai sampai
pegunungan mencapai ketiggia 30 m. Klasifikasi tumbuhan kelapa adalah sebagai
berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Palmales (Arecales)
Family : Palmae (Arecaceae)
Genus : Cocos
Spesies : Cocos nucifera L.
2.2
Pengertian Sabut Kelapa dan Manfaat Sabut Kelapa
Sabut kelapa merupakan bagian terluar buah kelapa
yang membungkus tempurung kelapa. Ketebalan sabut kelapa berkisar 5-6 cm yang
terdiri atas lapisan terluar (exocarpium)
dan lapisan dalam (endocarpium). Endocarpium mengandung serat-serat halus
yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat tali, karung, pulp, karpet, sikat, keset, isolator panas dan suara, filter, bahan
pengisi jok kursi/mobil dan papan hardboard. Satu butir buah kelapa menghasilkan
0,4 kg sabut yang mengandung 30% serat. Komposisi kimia sabut kelapa terdiri
atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas, arang, ter, tannin, dan potassium. Sabut kelapa jika
diurai akan menghasilkan serat sabut (cocofibre)
dan serbuk sabut (cococoir).
Sabut kelapa dapat diolah menjadi beragam produk
jadi dan setengah jadi yang memiliki nilai jual tinggi. Produk tersebut antara
lain: tali sabut, keset, serat sabut (cocofibre),
serbuk sabut (cocopeat), serbuk sabut
padat (cocopeatbrick), cocomesh, cocopot, cocosheet, coco fiber
board (CFB) dan cococoir. Serat
sabut kelapa, atau dalam perdagangan dunia dikenal sebagai Coco Fiber, Coir fiber, coir yarn, coir mats, dan rugs, merupakan produk hasil pengolahan
sabut kelapa. Secara tradisionil serat sabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk
bahan pembuat sapu, keset, tali dan alat-alat rumah tangga lain. Gabungan serat
kelapa atau Cocofiber dan latex alami
dapat diproduksi sebagai matras alami untuk spring
bed yang fleksibel dan lentur. keduanya ramah lingkungan dan alternative
yang baik sebagai pengganti matras sintetis.
2.3 Pengembangan
Limbah Kelapa di Indonesia
Sabut
kelapa sendiri merupakan bagian terbesar dari buah kelapa. Sabut kelapa jika
diolah dengan optimal akan menghasilkan serat sabut kelapa dengan kualitas yang
baik, memberikan nilai tambah dari sebuah sapu dan keset karena mempunyai daya
tarik tersendiri berbahan serat alam. Komoditi unggulan Kabupaten Kediri, salah
satunya yaitu sektor perkebunan kelapa. Limbah kelapa di Kediri secara garis
besar kurang dimanfaatkan secara maksimal karena pada umumnya masyarakat masih
menggunakan cara tradisional dalam pembuatanya. Contohnya pengolahan sabut
kelapa di Desa Payaman Kabupaten Kediri kebanyakan digunakan sebagai sapu dan
keset dengan proses secara tradisional yang hasilnya masih kurang memenuhi
keinginan konsumen.
Sejalan dengan semakin meningkatnya
produksi kelapa sawit dari tahun ke tahun, akan terjadi pula peningkatan volume
limbahnya. Umumnya limbah padat industri kelapa sawit mengandung bahan organik
yang tinggi sehingga berdampak pada pencemaran lingkungan. Penanganan limbah
secara tidak tepat akan mencemari lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan
untuk mengolah dan meningkatkan nilai ekonomi limbah padat kelapa sawit. Diketahui
untuk 1 ton kelapa sawit akan mampu menghasilkan limbah berupa tandan kosong
kelapa sawit sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang (shell) sebanyak 6,5%
atau 65 kg, wet decanter solid
(lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (fiber) 13% atau 130 kg serta limbah
cair sebanyak 50%.
2.4 Usaha Yang Dapat Dibangun Dengan
Bahan Baku Sabut Kelapa
Sejak
COVID-19 menjadi pandemi di Ondonesia, maka pemerintah sudah mengeluarkan
aturan untuk tetap berada di rumah. Oleh karena itu maka masyarakat mulai
melakukan berbagai kegiatan dari rumah. Berbagai cara dilakukan untuk mencari
alternatif solusi penghijauan dan peningkatan nilai keindahan di lingkungan
rumah selain sebagai akibat dari semakin minimnya lahan di daerah perkotaan,
juga dengan penghijauan dapat menambah kenyamanan tinggal dan baik untuk
kesehatan mata penghuni rumah. Salah satu cara praktis untuk melakukan
penghijauan dan penataan lingkungan rumah adalah dengan menggunakan teknik
menanam kokedama.
Kokedama telah banyak mengalami
perubahan dan saat ini kokedama digunakan untuk menjadi penghias tanaman di
dalam rumah (indoor), sehingga pada umumnya pemilihan tanaman untuk teknik ini
adalah tanaman yang tidak memerlukan intensitas matahari dalam jumlah berlebih.
Kokedama memiliki bentuk yang unik karena tidak membutuhkan pot sebagai wadah
karean pot dapat diganti dengan penggunaan lumut atau dapat menggunakan sabut
kelapa jika sulit mendapatkan lumut. Selain ramah lingkungan, metode kokedama
menggunakan sabut kelapa sebagai pengganti lumut juga membantu pemanfaatan
limbah kelapa.
Usaha lainnya yaitu Cocopeat brick adalah pith (empulur) yang dipadatkan dengan ukuran yang mudah digunakan untuk rumah kaca, tanaman pot lapangan golf, lansekap dan untuk mengendalikan erosi. Cocopeat brick selain ramah lingkungan juga telah diuji secara luas sebagai media pertumbuhan tanaman.
Cocopot
adalah sebagai media tumbuh tanaman yang khusus dipakai oleh Pertambangan untuk
reklamasi bekas galian tambang. Cocopot (pot dari sabut kelapa) ini berfungsi
sebagai media tumbuh tanaman yang sangat cocok untuk tanaman dalam pot, minus
unsur hara, bahkan rekomendasi untuk reklamasi bekas tambang. Sabut kelapa yang
dibentuk menjadi pot mempunyai nilai artistik tersendiri serta ramah lingkungan
karena berfungsi sebagai hara ketika habis masa pakainya. Pot yang dibuat dari
sabut kelapa menyerap air sehingga air lebih merata disekeliling tanaman dan
memberikan keleluasaan akar tumbuh kesegala arah oleh sebab itu tanaman dapat
menjadi lebih sehat.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1. 1. Kelapa adalah
suatu jenis tumbuha dari suku aren-arenan atau Arecaceace
2. 2. Sabut kelapa
merupakan bagian terluar buah kelapa yang membungkus tempurung kelapa.
3. 3. 1 ton kelapa sawit akan mampu menghasilkan limbah
berupa tandan kosong kelapa sawit sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang
(shell) sebanyak 6,5% atau 65 kg, wet
decanter solid (lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (fiber) 13% atau 130
kg serta limbah cair sebanyak 50%.
4. 4. Sabut kelapa
dapat diolah menjadi beragam antara lain: tali sabut, kokedama, keset, serat sabut
(cocofibre), serbuk sabut (cocopeat), serbuk sabut padat (cocopeatbrick), cocomesh, cocopot, cocosheet, coco fiber board (CFB) dan cococoir.
5. 5. Komposisi kimia
sabut kelapa terdiri atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas, arang, ter,
tannin, dan potassium.
DAFTAR PUSTAKA
Amin
M, Samsudi. 2011. Pemanfaatan Limbah Serat Sabut Kelapa Sebagai Bahan Pembuat
Helm Pengendara Kendaraan Roda Dua. Jurnal
Teknik, 3(7)314.
Arifianto W.
2017. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap
Distribusi Pendapatan di Indonesia. Jurnal
Ekonomi, 2(1):2-3.
Astika
L, Indahyani M, Titi HY. 2013. Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Pada Perencanaan
Interior dan Furniture yang Berdampak Pada Pemberdayaan Masyarakat Miskin. Jurnal Desain Interior, 2(1):34-35.
Djiwo
S, Eko HS. 2016. Mesin Teknologi Tepat Guna Sabut Kelapa di Ukm Sumber Rejeki
Kabupaten Kediri. Jurnal HHBK,
1(3):23.
Mulyani A, Irsal
L. 2011. Potensi
Sumber Daya Lahan dan Optimalisasi Pengembangan Komoditas Penghasil Bioenergi di
Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Sinaga
H, Jeperson H, Yessica S. 2020. Kreatif, Indah dan Berpeluang Bisnis Lewat
Kokedama. Jurnal Pengabdian Masyarakat,
3(3):34.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar