Senin, 29 Maret 2021

Paper Bisnis Kehutanan


Paper Bisnis Kehutanan                                                                               Medan,   Maret 2021

BISNIS SABUT KELAPA (Cocos nucifera)

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Oleh:

Sabylita Amanda

181201095

MNH 6

 

                                                                                           

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021






KATA PENGANTAR

              Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper yang berjudul “Bisnis Sabut Kelapa (Cocos nucifera)” ini dengan baik. Paper Bisnis Kehutanan ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah Bisnis Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

            Dalam penyelesaian paper ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen pembimbing mata kuliah Bisnis Kehutanan, yang telah mengajarkan materi dengan baik.

Penulis sadar bahwa penulisan paper ini masih memiliki kesalahan- kesalahan, baik itu dalam segi teknik maupun dalam bahasa. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi menyempurnakan paper ini. Akhir kata, penulis berharap semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih.

 

 

 

             Medan,    Maret 2021

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kemiskinan dan ketidakmerataan pendapatan adalah dua hal yang sedang gencar-gencarnya ditekan pertumbuhannya oleh pemerintah.Ketidakmerataan terkait erat dengan kemiskinan karena secara mendasar adalah indikator kemiskinan relatif, yaitu kesenjangan antara golongan kaya dan miskin. Jika melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, pada 3 tahun terakhir terus mengalami peningkatan yang cukup baik.Hal ini dapat dilihat dari PDB Indonesia dalam Laporan Perekeonomian Indonesia 2011 yang dipublikasikan oleh BI melalui situs resminya.Dalam tiga tahun terakhir terus mengalami suatu
peningkatan (Arifianto, 2017).

Indonesia memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian. Beberapa tanaman yang potensial sebagai penghasil bioenergi adalah kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kapas, kanola, dan rapeseed untuk biodiesel, serta ubi kayu, ubi jalar, tebu, sorgum, sagu, aren, nipah, dan lontar untuk bioethanol. Selain potensial sebagai penghasil bioenergi, beberapa komoditas tersebut, seperti kelapa sawit, kelapa, kapas, ubi kayu, tebu, dan sagu, juga merupakan komoditas sumber bahan pangan dan pakan. Oleh karena itu, suatu pengembangan komoditas penghasil bioenergi tersebut akan apat bersaing dengan kebutuhan untuk pangan maupun
pakan (Mulyani dan Irsal, 2011).

HHBK merupakan sumberdaya yang paling bernilai bagi masyarakat sekitar hutan, lebih bernilai daripada kayu. Sebagai negara kepulauan serta kondisi argoklimat yang mendukung Indonesia merupakan penghasil kelapa utama di dunia. Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas, lebih luas dibandingkan dengan tanaman karet dan kelapa sawit dan menempati urutan teratas untuk tanaman budidaya setelah padi. Selain daging buahnya, bagian lain dari kelapa juga memiliki nilai ekonomis seperti tempurung, batang pohon dan daun kelapa, tetapi sabut kelapa (Coco fiber) kurang mendapat perhatian (Astika et al., 2013).

Tanaman kelapa merupakan tanaman yang banyak dijumpai di seluruh pelosok Nusantara, sehingga hasil alam berupa kelapa di Indonesia sangat melimpah. Sampai saat ini pemanfaatan limbah berupa sabut kelapa masih terbatas pada industri-industri mebel dan kerajinan rumah tangga dan belum diolah menjadi produk teknologi. Limbah serat buah kelapa sangat potensial digunakan sebagai penguat bahan baru pada komposit. Beberapa keistimewaan pemanfaatan serat sabut kelapa sebagai bahan baru rekayasa antara lain menghasilkan bahan baru komposit alam yang ramah lingkungan dan mendukung gagasan pemanfaatan serat sabut kelapa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan teknologi tinggi (Amin dan Samsudi, 2011).

1.2  Rumusan Masalah

1.      Klasifikasi kelapa

2.      Apa itu sabut kelapa dan manfaat sabut kelapa?

3.      Bagaimana pengembagan limbah kelapa di Indonesia?

4.      Apa-apa saja usaha yang dapat dibangun dengan bahan baku sabut kelapa?

1.3  Tujuan

1.      Untuk mengetahui klasifikasi kelapa

2.      Untuk mengetahui pengertian sabut kelapa dan manfaat sabut kelapa

3.      Untuk mengetahui pengembangan limbah kelapa di Indonesia

4.      Untuk mengetahui usaha apa saja yang dapat dibangun dengan menggunakan bahan baku sabut kelapa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

2.1 Klasifikasi Kelapa

            Kelapa adalah suatu jenis tumbuha dari suku aren-arenan atau Arecaceace. Tumbuhan ini memiliki manfaat yang banyak, hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia sehingga dan dianggap sebagai tumbuhan serba guna. Kelapa secara alami tumbuh di daerah pantai sampai pegunungan mencapai ketiggia 30 m. Klasifikasi tumbuhan kelapa adalah sebagai berikut:



Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

                              

Sub Divisi       : Angiospermae

Kelas               : Monocotyledoneae

Ordo                : Palmales (Arecales)

Family             : Palmae (Arecaceae)

Genus              : Cocos

Spesies            : Cocos nucifera L.

 

2.2 Pengertian Sabut Kelapa dan Manfaat Sabut Kelapa

            Sabut kelapa merupakan bagian terluar buah kelapa yang membungkus tempurung kelapa. Ketebalan sabut kelapa berkisar 5-6 cm yang terdiri atas lapisan terluar (exocarpium) dan lapisan dalam (endocarpium). Endocarpium mengandung serat-serat halus yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat tali, karung, pulp, karpet, sikat, keset, isolator panas dan suara, filter, bahan pengisi jok kursi/mobil dan papan hardboard. Satu butir buah kelapa menghasilkan 0,4 kg sabut yang mengandung 30% serat. Komposisi kimia sabut kelapa terdiri atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas, arang, ter, tannin, dan potassium. Sabut kelapa jika diurai akan menghasilkan serat sabut (cocofibre) dan serbuk sabut (cococoir).

            Sabut kelapa dapat diolah menjadi beragam produk jadi dan setengah jadi yang memiliki nilai jual tinggi. Produk tersebut antara lain: tali sabut, keset, serat sabut (cocofibre), serbuk sabut (cocopeat), serbuk sabut padat (cocopeatbrick), cocomesh, cocopot, cocosheet, coco fiber board (CFB) dan cococoir. Serat sabut kelapa, atau dalam perdagangan dunia dikenal sebagai Coco Fiber, Coir fiber, coir yarn, coir mats, dan rugs, merupakan produk hasil pengolahan sabut kelapa. Secara tradisionil serat sabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali dan alat-alat rumah tangga lain. Gabungan serat kelapa atau Cocofiber dan latex alami dapat diproduksi sebagai matras alami untuk spring bed yang fleksibel dan lentur. keduanya ramah lingkungan dan alternative yang baik sebagai pengganti matras sintetis.

2.3 Pengembangan Limbah Kelapa di Indonesia

          Sabut kelapa sendiri merupakan bagian terbesar dari buah kelapa. Sabut kelapa jika diolah dengan optimal akan menghasilkan serat sabut kelapa dengan kualitas yang baik, memberikan nilai tambah dari sebuah sapu dan keset karena mempunyai daya tarik tersendiri berbahan serat alam. Komoditi unggulan Kabupaten Kediri, salah satunya yaitu sektor perkebunan kelapa. Limbah kelapa di Kediri secara garis besar kurang dimanfaatkan secara maksimal karena pada umumnya masyarakat masih menggunakan cara tradisional dalam pembuatanya. Contohnya pengolahan sabut kelapa di Desa Payaman Kabupaten Kediri kebanyakan digunakan sebagai sapu dan keset dengan proses secara tradisional yang hasilnya masih kurang memenuhi keinginan konsumen.

            Sejalan dengan semakin meningkatnya produksi kelapa sawit dari tahun ke tahun, akan terjadi pula peningkatan volume limbahnya. Umumnya limbah padat industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga berdampak pada pencemaran lingkungan. Penanganan limbah secara tidak tepat akan mencemari lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengolah dan meningkatkan nilai ekonomi limbah padat kelapa sawit. Diketahui untuk 1 ton kelapa sawit akan mampu menghasilkan limbah berupa tandan kosong kelapa sawit sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang (shell) sebanyak 6,5% atau 65 kg, wet decanter solid (lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (fiber) 13% atau 130 kg serta limbah cair sebanyak 50%.

2.4  Usaha Yang Dapat Dibangun Dengan Bahan Baku Sabut Kelapa

            Sejak COVID-19 menjadi pandemi di Ondonesia, maka pemerintah sudah mengeluarkan aturan untuk tetap berada di rumah. Oleh karena itu maka masyarakat mulai melakukan berbagai kegiatan dari rumah. Berbagai cara dilakukan untuk mencari alternatif solusi penghijauan dan peningkatan nilai keindahan di lingkungan rumah selain sebagai akibat dari semakin minimnya lahan di daerah perkotaan, juga dengan penghijauan dapat menambah kenyamanan tinggal dan baik untuk kesehatan mata penghuni rumah. Salah satu cara praktis untuk melakukan penghijauan dan penataan lingkungan rumah adalah dengan menggunakan teknik menanam kokedama.

            Kokedama telah banyak mengalami perubahan dan saat ini kokedama digunakan untuk menjadi penghias tanaman di dalam rumah (indoor), sehingga pada umumnya pemilihan tanaman untuk teknik ini adalah tanaman yang tidak memerlukan intensitas matahari dalam jumlah berlebih. Kokedama memiliki bentuk yang unik karena tidak membutuhkan pot sebagai wadah karean pot dapat diganti dengan penggunaan lumut atau dapat menggunakan sabut kelapa jika sulit mendapatkan lumut. Selain ramah lingkungan, metode kokedama menggunakan sabut kelapa sebagai pengganti lumut juga membantu pemanfaatan limbah kelapa.





 

 

 

 

 

 


           



Usaha lainnya yaitu Cocopeat brick adalah pith (empulur) yang dipadatkan dengan ukuran yang mudah digunakan untuk rumah kaca, tanaman pot lapangan golf, lansekap dan untuk mengendalikan erosi. Cocopeat brick selain ramah lingkungan juga telah diuji secara luas sebagai media pertumbuhan tanaman.

 

 

 

 





Cocomesh adalah jaring yang dibuat dari sabut kelapa. Biasanya dibuat seperti seukuran net bola volly atau dapat disesuaikan dengan kebutuhan lahan. Penggunaan Cocomesh ini terbukti efektif dalam mencegah longsor ataupun banjir. Cocomesh juga berfungsi sebagai media tumbuh tanaman dan sangat cocok untuk reklamasi bekas tambang atau pantai. Dengan mematok ujung-ujungnya, cocomesh dihamparkan dalam lahan bekas galian tambang. pemasangannnya disesuaikan dengan struktur tanah. Bisa miring, atau datar. Untuk Pemasangan biasanya dibuat dalam 2 lapisan.

 

 

 

 

 

 

Cocopot adalah sebagai media tumbuh tanaman yang khusus dipakai oleh Pertambangan untuk reklamasi bekas galian tambang. Cocopot (pot dari sabut kelapa) ini berfungsi sebagai media tumbuh tanaman yang sangat cocok untuk tanaman dalam pot, minus unsur hara, bahkan rekomendasi untuk reklamasi bekas tambang. Sabut kelapa yang dibentuk menjadi pot mempunyai nilai artistik tersendiri serta ramah lingkungan karena berfungsi sebagai hara ketika habis masa pakainya. Pot yang dibuat dari sabut kelapa menyerap air sehingga air lebih merata disekeliling tanaman dan memberikan keleluasaan akar tumbuh kesegala arah oleh sebab itu tanaman dapat menjadi lebih sehat.





 

 

 

 

 

 

 


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1.      1. Kelapa adalah suatu jenis tumbuha dari suku aren-arenan atau Arecaceace

2.      2. Sabut kelapa merupakan bagian terluar buah kelapa yang membungkus tempurung kelapa.

3.     3.  1 ton kelapa sawit akan mampu menghasilkan limbah berupa tandan kosong kelapa sawit sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang (shell) sebanyak 6,5% atau 65 kg, wet decanter solid (lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (fiber) 13% atau 130 kg serta limbah cair sebanyak 50%.

4.     4.  Sabut kelapa dapat diolah menjadi beragam antara lain: tali sabut, kokedama, keset, serat sabut (cocofibre), serbuk sabut (cocopeat), serbuk sabut padat (cocopeatbrick), cocomesh, cocopot, cocosheet, coco fiber board (CFB) dan cococoir.

5.    5.   Komposisi kimia sabut kelapa terdiri atas selulosa, lignin, pyroligneous acid, gas, arang, ter, tannin, dan potassium.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amin M, Samsudi. 2011. Pemanfaatan Limbah Serat Sabut Kelapa Sebagai Bahan Pembuat Helm Pengendara Kendaraan Roda Dua. Jurnal Teknik, 3(7)314.

Arifianto W. 2017. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Distribusi Pendapatan di Indonesia. Jurnal Ekonomi, 2(1):2-3.

Astika L, Indahyani M, Titi HY. 2013. Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Pada Perencanaan Interior dan Furniture yang Berdampak Pada Pemberdayaan Masyarakat Miskin. Jurnal Desain Interior, 2(1):34-35.

Djiwo S, Eko HS. 2016. Mesin Teknologi Tepat Guna Sabut Kelapa di Ukm Sumber Rejeki Kabupaten Kediri. Jurnal HHBK, 1(3):23.

Mulyani A, Irsal L. 2011. Potensi Sumber Daya Lahan dan Optimalisasi Pengembangan Komoditas Penghasil Bioenergi di Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.

Sinaga H, Jeperson H, Yessica S. 2020. Kreatif, Indah dan Berpeluang Bisnis Lewat Kokedama. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(3):34.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar